TOP 10 EMPLOYABILITY SKILLS

CHEFEmployability Skills can be defined as the transferable skills needed by an individual to make them ‘employable’. Along with good technical understanding and subject knowledge, employers often outline a set of skills that they want from an employee. These skills are what they believe will equip the employee to carry out their role to the best of their ability.

Employability depends on your knowledge, skills and attitudes, how you use those assets, and how you present them to employers. The table below has been compiled by a range of UK-based companies (see company details at the end of this guide), and it lists the Top 10 Employability Skills which they look for in potential employees – that means you! We asked the companies to define exactly what these skills mean, and how you could show evidence of these skills in an interview or application for a job.

1.  Communication and interpersonal skills

The ability to explain what you mean in a clear and concise way through written and spoken means. To listen and relate to other people, and to  act upon key information / instructions.

2.  Problem solving skills

The ability to understand a problem by breaking it down into smaller parts, and identifying the key issues, implications and identifying solutions. To apply your knowledge from many different areas to solving a task.

3.  Using your initiative and being self-motivated

Having new ideas of your own which can be made into a reality. Showing a strong personal drive and not waiting to be told to do things.

4. Working under pressure and to deadlines

Handling stress that comes with deadlines and ensuring that you meet them.

5.  Organisational skills

Being organised and methodical. Able to plan work to meet deadlines and targets. Monitoring progress of work to ensure you are on track to meeting a deadline.

6.  Team working

Working well with other people from different disciplines, backgrounds, and expertise to accomplish a task or goal.

7.  Ability to learn and adapt

To be enthusiastic about your work, and to identify ways to lear n from your mistakes for the benefit of both you and your employer.

8.  Numeracy

The ability to use data and mathematics to support evidence or demonstrate a point.

9. Valuing diversity and difference

Knowing the value of diversity and what it can bring. Understanding and being considerate of the different needs of different individuals.

10. Negotiation skills

To take on board other people’s feelings and express your own requirements in an unemotional clear fashion to achieve a win-win outcome.

Pendidikan Kejuruan

Sekolah kejuruan masih menjadi sekolah ’kelas dua’ setelah SMA. Padahal, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jadi salah satu komponen yang patut dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia. Menjelang era perdagangan bebas, ada tuntutan kebutuhan sumber daya manusia (SDM). Indonesia sebagai pemasok tenaga kerja yang cukup produktif di mata internasional, ikut bersaing dengan negara lain.

Untuk memenuhinya, kesiapan kualitas SDM makin ditingkatkan. Jalurnya juga turut dipersiapkan melalui sistem pendidikan yang disesuaikan untuk mampu mengatasi kebutuhan sumber daya manusia. Sejak ekonomi Indonesia terpuruk pada tahun 1997, angka pengangguran di Indonesia tidak berkurang, justru setiap tahun selalu bertambah. Hal ini karena jumlah angkatan kerja lulus pada setiap tahunnya tidak bisa terserap habis di tahun tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Ir.H.Eman Suparno MBA, belum lama ini.  Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa untuk mengatasi permasalahan tersebut ada dua metode penyelesaian, yakni dengan meningkatkan kompetensi lulusan dan meningkatkan program pemberdayaan masyarakat. Continue reading

Problema perencanaan diklat kejuruan Indonesia

oleh: Tuatul Mahfud. S.Pd

Masalah besar yang masih dihadapi bidang ketenegakerjaan saat ini adalah tingkat pengangguran yang relatif tinggi dengan pertambahan angkatan kerja melebihi pertambahan jumlah kesempatan kerja yang tersedia, jumlah pertumbuhan angkatan kerja yang cukup pesat kurang dapat diimbangi oleh kemampuan penciptaan kesempatan kerja sehingga terjadi pengangguran terbuka yang berakumulasi setiap tahun. Hal inimengindikasikan ketidaksesuaian pemetaan jumlah lulusan dengan kebutuhan dunia kerja/industri. Sehingga diperlukan suatu usaha penyelarasan antara diklat kejuruan dengan kebutuhan dunia industri.

Pada dasarnya penyelarasan merupakan upaya penyesuaian diklat sebagai pemasok SDM dengan dunia kerja yang memiliki kebutuhan dan tuntutan yang dinamis. Konsep penyelarasan mengisyaratkan adanya kebutuhan koordinasi yang baik antara pihak penyedia lulusan pendidikan dengan pihak yang membutuhkan tenaga lulusan. Analisis kebutuhan dunia kerja yang meliputi kualitas/kompetensi dan kuantitas  pada lokasi dan waktu yang berbeda merupakan informasi awal yang perlu disediakan dalam proses penyelarasan. Informasi kebutuhan dunia kerja yang akurat dan rencana pengembangan nasional di berbagai sektor diperlukan dalam reengineering sistem pendidikan pada setiap level dan bidang dalam menyediakan SDM sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Reengineering seluruh aspek pendidikan, baik pada aspek sarana prasarana, tenaga pendidik, maupun sistem pembelajaran, harus ditujukan untuk pencapaian keselarasan antara pendidikan dan dunia kerja.

Continue reading

Kajian Pelatihan Tenaga Kerja Indonesia (TKI/TKW)

oleh: Tuatul Mahfud S.Pd

Munculnya beberapa kasus penganiayaan, pemerkosan, dan lain-lain terhadap TKI/TKW saat ini memang sangat disebabkan karena kurangnya kemampuan untuk bekerja dan yang paling penting adalah masalah komunikasi. Nyatanya pemebekalan bagi TKI yang akan dipekerjakan masih sangat jauh dari harapan, modal dasar untuk bekerja masih belum bisa dimiliki sepenuhnya oleh setiap TKI/TKW, alhasil dengan bermodalkan kemampuan dibawah rata-rata TKI tetap diberangkatkan. Hal ini perlu dikaji ulang terkait pelatihan yang akan diselenggrakan untuk pembekalan TKI agar TKI kita mempunyai posisi tawar dan keberadaanya lebih dihargai sebagai tenaga kerja yang profesional.

Adanya Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) masih belum bisa dijadikan sandaran untuk menyediakan TKI yang siap kerja. Dari hasil survey  sebanyak 86 Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) swasta dari 181 BLK-LN dinilai buruk tidak memenuhi kriteria sebagai tempat pelatihan tenaga kerja Indonesia (TKI) luar negeri. Hal itu ditemukan dari hasil rating yang dilakukan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di bulan Oktober-Desember 2007. Rating BLK TKI tersebut dilakukan terhadap 260 BLK-LN diseluruh Indonesia, namun 79 BLK-LN tidak dapat disurvey karena alamat BLK-LN tidak ditemukan dan bahkan ada yang beralih fungsi, sehingga yang dapat dilakukan rating hanya sebanyak 181 BLK-LN. Rating terhadap BLK-LN tersebut merupakan bagian dari perbaikan kualitas TKI, dan menjawab tuntutan pengguna TKI atas pengajuan kenaikan upah, dan meningkatkan harkat dan martabat TKI, mengangkat citra bangsa Indonesia dan peningkatan perlindungan TKI diluar negeri. Continue reading

PERAN SMK SEBAGAI SPECIFIC HUMAN CAPITAL DALAM MEMBANGUN PEREKONOMIAN INDONESIA

PERAN SMK SEBAGAI SPECIFIC HUMAN CAPITAL DALAM MEMBANGUN PEREKONOMIAN INDONESIA

Oleh:

Tuatul Mahfud & Ade Novi

(Mahasiswa Pascasarjana PTK UNY)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran SMK dalam membangun perekonomian indonesia. SMK sebagai lembaga yang menciptakan Specific Human Capital akan menciptakan tenaga kerja yang terampil pada bidang tertentu dengn performance value yang baik. Dengan terciptanya performance value yang baik,  maka lulusan tersebut mudah untuk terserap kedunia industri yang akan berimbas pada peningkatan pertumbuhan perekonomian daerah.

SMK merupakan lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk menghasilkan specific human capital. Di SMK, sejak awal siswa dididik untuk berkomitmen pada ketrampilan tertentu (specific) yang match langsung dengan kepentingan sektor usaha industri tertentu. Siswa SMK dibekali dengan ketrampilan praktis dan pengalaman kerja (semacam on-the-jobtraining) dalam kekhususan tertentu. SMK sebagai suatu entities memiliki peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Sebagai suatu entitas ekonomi, keberadaan SMK dapat berperan sebagai special endowment factor dalam perekonomian di daerah.

Keterserapan alumni SMK dalam pasar tenaga kerja berarti penciptaan income bagi alumni SMK, sekaligus pendapatan bagi daerah (dalam bentuk PDRB) di mana alumni tersebut bekerja. Peran inilah yang kemudian menjadikan SMK menjadi suatu engine sector of growth dalam pertumbuhan ekonomi di daerah.

Kata Kunci : SMK, Specific Human Capital, dan Ekonomi

I. PENDAHULUAN

Indonesia mau tidak mau terlibat di dalam proses globalisasi dan persaingan yang semakin meluas dalam berbagai bentuk berupa arus barang dan jasa tenaga kerja dan arus modal pada tahun 2003 (AFTA) dan tahun 2020 (APEC), yang tidak mungkin terlepas dari persyaratan tersedianya sumberdaya manusia atau tenaga kerja sesuai kebutuhan industri saat ini, memiliki kompetensi dan fleksibel dalam menghadap perubahan dan tantangan di masa mendatang. Continue reading

PENDIDIKAN KEJURUAN SEBAGAI SEBUAH SISTEM

(oleh: Tuatul Mahfud, Mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan UNY)

TUJUAN PENDIDIKAN KEJURUAN

Melihat dari orientasinya maka pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mengarahkan peserta didik untuk bekerja pada bidang tertentu (UUSPN 2, 1989). Pendidikan Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang mengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu (PP 29 tahun 1990 Pasal 1 ayat 3). Salah satu teori yang mendukung keberadaan pendidikan kejuruan yaitu dengan pendekatan satu dari tiga stream arah pendidikan, yaitu education for earning money for life (Charles Prosser), aliran social efficiency  ini mengarahkan para siswa yang ingin mengembangkan karier untuk bekerja setelah lulus, mempersiapkan siswa untuk bekerja setelah lulus. Selain itu tiga teori yang mendukung pembelajaran dalam pendidikan kejuruan menurut pendapat Prosser and Allen (1925), yaitu : (1) Pendidikan Kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan jika tugas latihan dilakukan dengan cara, alat, dan mesin yang sama seperti yang diterapkan di tempat kerja. (2) Pendidikan Kejuruan akan efektif jika individu dilatih secara langsung dan spesifik. (3) Menumbuhkan kebiasaan kerja yang efektif kepada siswa akan terjadi hanya jika pelatihan dan pembelajaran yang diberikan berupa pekerjaan nyata dan bukan sekedar latihan.

Oleh karenanya dalam hal ini pendidikan kejuruan tidak terlepas keterikatannya dengan dunia indsutri sebagai partner dalam pembelajaran pendidikan kejuruan, keduanya tidak dapat dipisahkan atau bahkan berdiri sendiri-sendiri. Idealnya pendidikan kejuruan dibangun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan dunia industri, sehingga keterserapan lulusan di dunia industri dapat maksimal dan tidak menghasilkan pengangguran yang signifikan. Ironisnya pengembangan pendidikan kejuruan yang kini sedang dicanangkan dan dijalankan dalam memenuhi kebijakan perluasan SMK : SMA menjadi  70 : 30 sampai tahun 2014 tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan kejuruan, sehingga timbul kesan perluasan kuantitas pendidikan kejuruan semata tanpa memperhatikan peningkatan kualitas.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya pendidikan kejuruan ikut andil dalam berkontribusi untuk pengembangan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Terkait hal ini, Carr dan Hartnett (2002) menulis “the paradigm of vocational education is economic: to contribute to the regeneration and modernization of indsutry and so advance the economic development and growth of modern society.” Continue reading

PENGANGGURAN

Definisi:

  • Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.
  • Pengangguran sering juga diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal.

Dampak:

  • Negara terbebani karena hrs menyediakan makan tanpa menyumbang produktivitas
  • Pendapatan nasional tidak maksimal
  • Pendapat Domestik Bruto rendah.
  • Timbul banyak kerawanan sosial dan keamanan

Jenis-Jenis Pengangguran

  • Pengangguran terselubung (disguissed unemployment): tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
  • Setengah Menganggur (under unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan biasanya tenaga jerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
  • Pengangguran Terbuka (open unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Continue reading
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.