Home » Isu Pendidikan Kejuruan

Category Archives: Isu Pendidikan Kejuruan

TOP 10 EMPLOYABILITY SKILLS

CHEFEmployability Skills can be defined as the transferable skills needed by an individual to make them ‘employable’. Along with good technical understanding and subject knowledge, employers often outline a set of skills that they want from an employee. These skills are what they believe will equip the employee to carry out their role to the best of their ability.

Employability depends on your knowledge, skills and attitudes, how you use those assets, and how you present them to employers. The table below has been compiled by a range of UK-based companies (see company details at the end of this guide), and it lists the Top 10 Employability Skills which they look for in potential employees – that means you! We asked the companies to define exactly what these skills mean, and how you could show evidence of these skills in an interview or application for a job. (more…)

Pendidikan Kejuruan

Sekolah kejuruan masih menjadi sekolah ’kelas dua’ setelah SMA. Padahal, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jadi salah satu komponen yang patut dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia. Menjelang era perdagangan bebas, ada tuntutan kebutuhan sumber daya manusia (SDM). Indonesia sebagai pemasok tenaga kerja yang cukup produktif di mata internasional, ikut bersaing dengan negara lain.

Untuk memenuhinya, kesiapan kualitas SDM makin ditingkatkan. Jalurnya juga turut dipersiapkan melalui sistem pendidikan yang disesuaikan untuk mampu mengatasi kebutuhan sumber daya manusia. Sejak ekonomi Indonesia terpuruk pada tahun 1997, angka pengangguran di Indonesia tidak berkurang, justru setiap tahun selalu bertambah. Hal ini karena jumlah angkatan kerja lulus pada setiap tahunnya tidak bisa terserap habis di tahun tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Ir.H.Eman Suparno MBA, belum lama ini.  Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa untuk mengatasi permasalahan tersebut ada dua metode penyelesaian, yakni dengan meningkatkan kompetensi lulusan dan meningkatkan program pemberdayaan masyarakat. (more…)

Problema perencanaan diklat kejuruan Indonesia

oleh: Tuatul Mahfud. S.Pd

Masalah besar yang masih dihadapi bidang ketenegakerjaan saat ini adalah tingkat pengangguran yang relatif tinggi dengan pertambahan angkatan kerja melebihi pertambahan jumlah kesempatan kerja yang tersedia, jumlah pertumbuhan angkatan kerja yang cukup pesat kurang dapat diimbangi oleh kemampuan penciptaan kesempatan kerja sehingga terjadi pengangguran terbuka yang berakumulasi setiap tahun. Hal inimengindikasikan ketidaksesuaian pemetaan jumlah lulusan dengan kebutuhan dunia kerja/industri. Sehingga diperlukan suatu usaha penyelarasan antara diklat kejuruan dengan kebutuhan dunia industri.

Pada dasarnya penyelarasan merupakan upaya penyesuaian diklat sebagai pemasok SDM dengan dunia kerja yang memiliki kebutuhan dan tuntutan yang dinamis. Konsep penyelarasan mengisyaratkan adanya kebutuhan koordinasi yang baik antara pihak penyedia lulusan pendidikan dengan pihak yang membutuhkan tenaga lulusan. Analisis kebutuhan dunia kerja yang meliputi kualitas/kompetensi dan kuantitas  pada lokasi dan waktu yang berbeda merupakan informasi awal yang perlu disediakan dalam proses penyelarasan. Informasi kebutuhan dunia kerja yang akurat dan rencana pengembangan nasional di berbagai sektor diperlukan dalam reengineering sistem pendidikan pada setiap level dan bidang dalam menyediakan SDM sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Reengineering seluruh aspek pendidikan, baik pada aspek sarana prasarana, tenaga pendidik, maupun sistem pembelajaran, harus ditujukan untuk pencapaian keselarasan antara pendidikan dan dunia kerja.

(more…)

Kajian Pelatihan Tenaga Kerja Indonesia (TKI/TKW)

oleh: Tuatul Mahfud S.Pd

Munculnya beberapa kasus penganiayaan, pemerkosan, dan lain-lain terhadap TKI/TKW saat ini memang sangat disebabkan karena kurangnya kemampuan untuk bekerja dan yang paling penting adalah masalah komunikasi. Nyatanya pemebekalan bagi TKI yang akan dipekerjakan masih sangat jauh dari harapan, modal dasar untuk bekerja masih belum bisa dimiliki sepenuhnya oleh setiap TKI/TKW, alhasil dengan bermodalkan kemampuan dibawah rata-rata TKI tetap diberangkatkan. Hal ini perlu dikaji ulang terkait pelatihan yang akan diselenggrakan untuk pembekalan TKI agar TKI kita mempunyai posisi tawar dan keberadaanya lebih dihargai sebagai tenaga kerja yang profesional.

Adanya Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) masih belum bisa dijadikan sandaran untuk menyediakan TKI yang siap kerja. Dari hasil survey  sebanyak 86 Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) swasta dari 181 BLK-LN dinilai buruk tidak memenuhi kriteria sebagai tempat pelatihan tenaga kerja Indonesia (TKI) luar negeri. Hal itu ditemukan dari hasil rating yang dilakukan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di bulan Oktober-Desember 2007. Rating BLK TKI tersebut dilakukan terhadap 260 BLK-LN diseluruh Indonesia, namun 79 BLK-LN tidak dapat disurvey karena alamat BLK-LN tidak ditemukan dan bahkan ada yang beralih fungsi, sehingga yang dapat dilakukan rating hanya sebanyak 181 BLK-LN. Rating terhadap BLK-LN tersebut merupakan bagian dari perbaikan kualitas TKI, dan menjawab tuntutan pengguna TKI atas pengajuan kenaikan upah, dan meningkatkan harkat dan martabat TKI, mengangkat citra bangsa Indonesia dan peningkatan perlindungan TKI diluar negeri. (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.