MODUL MULTIMEDIA

Home » Pendidikan » Pendidikan kita lelet….

Pendidikan kita lelet….

Perkembangan pendidikan di Indonesia amat lamban. Perubahan di luar jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan yang terjadi di dunia pendidikan. Selain itu, manajemen pendidikan sampai kini belum mengesankan dan terlalu kaku. Perkembangan pendidikan nasional kita memang amat lamban. Dibandingkan dengan Malaysia, misalnya, kelambanan itu akan tampak amat jelas. Sekitar seperempat abad lalu, kinerja pendidikan kita belum optimal, namun jauh lebih baik dibandingkan dengan kinerja pendidikan Malaysia yang begitu buruk. Itu sebabnya Pemerintah Malaysia banyak mengirim pemudanya belajar ke Indonesia; ke UGM Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ITB Bandung, UI Jakarta, dan IPB Bogor. Pemerintah Malaysia juga mengimpor banyak guru dan dosen dari Indonesia untuk ikut membangun Malaysia melalui pendidikannya.

Kini pemuda Malaysia dikirim belajar ke Indonesia serta tak seorang pun guru dan dosen Indonesia diimpor ke Malaysia. Mengapa? Karena kinerja pendidikan Malaysia lebih baik daripada Indonesia. Hasil studi Asia Week (2000) tentang kualitas pendidikan tinggi menempatkan perguruan tinggi Malaysia lebih baik daripada perguruan tinggi Indonesia. Hasil studi IIMD (2001) tentang daya saing ekonomi menempatkan Malaysia di peringkat ke- 29, sedangkan Indonesia ke-49. Hasil studi PERC (2001) tentang kinerja pendidikan menempatkan Malaysia di posisi ke-7, sedangkan Indonesia ke-12. Hasil studi UNDP (2003) tentang kualitas manusia menempatkan Malaysia di ranking ke-58, sedangkan Indonesia ke-112.

Bahwa perkembangan pendidikan kita lamban, sudah menjadi realitas. Masalahnya kini apakah penyebabnya dan bagaimana mencari solusinya. Penyebab lambannya perkembangan pendidikan sebenarnya ada pada manajemen pendidikan yang tidak dapat dilaksanakan secara produktif. Manajemen pendidikan kita bukan saja kaku, seperti diakui Mendiknas, tetapi dalam banyak kasus justru kontra produktif. Manajemen pendidikan yang demikian akhirnya melahirkan banyak determinan atas kelambanan perkembangan pendidikan; dua di antaranya yang menonjol menyangkut infrastruktur serta kualitas manusia pelaku pendidikan. Infrastruktur pendidikan di Indonesia merupakan masalah kasat mata yang sudah puluhan tahun dicermati, akan tetapi tak pernah dapat dicarikan solusi yang tuntas oleh pemerintah.

Pada satuan SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) jumlah bangunan yang rusak juga tinggi meski proporsinya tidak sebanyak SD dan MI. Keadaan demikian berlaku bagi sekolah swasta maupun negeri; juga bagi sekolah di luar Pulau Jawa maupun di Pulau Jawa. Keadaan fisik sekolah yang memprihatinkan itu dilengkapi ketersediaan fasilitas belajar yang tidak memadai. Ketersediaan buku-buku perpustakaan yang kurang lengkap, alat peraga yang tak memadai, fasilitas olah raga dan kesenian yang jauh dari lengkap, peralatan laboratorium yang tidak komplet, komputer yang kedaluwarsa, dan sebagainya merupakan realitas yang menimpa sekolah kita umumnya. Bagaimana siswa dapat mencapai prestasi di tingkat internasional bila dalam mengikuti pelajaran dililit berbagai keterbatasan serta dibayang-bayangi bangunan yang sewaktu-waktu bisa roboh.

Selain menyangkut infrastruktur, determinan kedua yang membuat lambannya perkembangan pendidikan kita adalah kualitas manusia, khususnya guru. Secara objektif mutu guru kita masih rendah. Balitbang Depdiknas pernah membuat laporan, dari seluruh guru SD ternyata hanya sekitar 30 persen yang layak mengajar di kelas. Guru SMP dan SM pada dasarnya sama meski dengan proporsi berbeda. Guru MI, MTs, dan MA kondisinya lebih parah. Secara akademis, banyak guru tidak berkualifikasi mengajar, misalnya, lulusan SM mengajar SD dan MI, lulusan D II mengajar SMP dan MTs, dan lulusan D III mengajar SM serta MA. Kondisi seperti itu diperparah dengan kurang optimalnya motivasi mengajar sebagian guru. Hal ini dikarenakan kesejahteraan yang rendah. Bila selama ini banyak pendapat menyatakan profesionalisme guru di Indonesia relatif rendah atau kurang memadai, hal itu merupakan akibat langsung dari rendahnya kesejahteraan guru.

Kualitas guru yang rendah dan profesionalisme yang kurang memadai adalah kombinasi sempurna guna menghasilkan lulusan yang kurang cerdas. Realitas inilah yang terjadi di negara kita bertahun-tahun. Dalam keadaan seperti itu seharusnya guru mendapat perhatian mahaserius. Namun, pemerintah rupanya lebih sibuk mengurusi kurikulum. Padahal, hukum pendidikan kita menyatakan biarlah kurikulumnya jelek asal ada guru yang baik masih ada harapan untuk mendapatkan hasil yang baik.

Bangsa kita yang sudah merdeka lebih dari setengah abad ternyata tak mampu mencari solusi atas problematik yang simple serta kasat mata; dan sudah berlangsung puluhan tahun. Tentu ada yang “salah urus” di sini. Ini kembali kepada masalah manajemen pendidikan yang tidak produktif. Jadi, untuk melajukan jalannya kereta pendidikan, tidak ada jalan lain kecuali membenahi manajemen pendidikan nasional, baik yang menyangkut infrastruktur maupun kualitas manusianya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: