MODUL MULTIMEDIA

Home » Renungan » Tuk yang lembut hatinya…

Tuk yang lembut hatinya…

images2Kegelisahan- kegelisahan adalah fitrah setiap manusia di bumi nan
sempurna sebagai tempat seluruh mahluk melakukan tabiatnya.
Kegelisahan dapat muncul dimana saja dan kapan saja menguasai setiap
hati. Hati yang sedetik bersendawa indah di telinga-telinga penuh
semilir kesejukkan. Namun tiba-tiba sesengukkan hilang dari keindahan
sebelumnya. Teringat sudah pertanyaan kegelisahan. “kenapa matahari
terbit menghangatkan bumi”
. Dan “kenapa indah pelangi tak berujung di
Bumi”
. Lalu pertanyaan kegelisahan begitu mendasar menjadikan sebagian
mahluk bernama manusia berkata dengan bahasa atasnya. Seakan
mengatakan, “Jawablah! Kalau kau benar?”, begitu tinggi yang kemudian
melahirkan perdebatan tak bertepi. Seperti alam pikirnya telah
menemukan angka yang diyakini dengan tepat dari luasnya alam semesta.
Yang lainnya silahkan ikut turut dikatakan tak berdaya. Pertanyaan
kegelisahan menempatkan hati-hati yang sesengukkan. Jauh dari
terdengar indah di telinga.

Benarkah saat ini arti lemah lembut hatinya adalah yang telah terjadi
dalam kenyataan diatas. Apakah sudah terjadi dekadensi makna lemah
lembut hatinya dan bergeser jauh melampaui hakikat sebenarnya. Lalu
manusia-manusia itu mendefinisikan islam yang kaffah sebagai yang
lemah-lemah, dan lembut-lembut juga dikatakan tak berdaya.

Sebenarnya definisi ini tak harus mengemuka karena semuanya telah
jelas tak usah lagi di definisikan. Islam telah mengajarkan kepada
para sahabat akan definisinya. Umar Ibnul Khattab manusia yang dikenal
sangat keras dan kejam sebelum menerima hidayah. Titik balik ketika
akan melabrak Fatimah binti Khattab yang merupakan adik kandungnya
disebabkan keluarga adiknya tersebut telah masuk Islam tetapi
sesampainya di kediaman adiknya tersebut Umar mendengar lantunan
ayat-ayat yang mirip dibaca para sahabat nabi lainnya yang telah masuk
Islam. Dengan semakin geram dan kasar di pukulnya adik kandungnya itu.
Namun setelah melihat darah yang mengucur dari kening adiknya ia
menahan amarahnya dan berkata, “Kalau begitu, berikan lembaran syair
yang telah kudengar tadi agar aku dapat mempertimbangkan apa yang
telah diajarkan Muhammad keadamu”
. Lembaran itu diberikan adiknya dan
berisi tulisan surat Thaha, setelah dibaca Umar berkata, “Alangkah
indahnya kata-kata ini dan alangkah mulianya.”
Sejak saat itu Umar
meminta di pertemukan dengan Nabi Muhammad dan membaca dua kalimat
syahadat. Dan Umar yang terkenal kasar dan kejam berubah menjadi lemah
lembut hatinya kepada siapapun yang meninggikan agama Allah SWT. Namun
tetap keras terhadap kaum yang memusuhi Islam.

Islam yang telah menjadikan Umar yang keras dan kejam menjadi lemah
lembut hatinya. Juga mengajarkan Sahabat Abu Bakar yang terkenal lemah
lembut dan tak gagah sebelum masuk Islam, namun ketika Islam telah
memenuhi seluruh aliran darah menjadikan beliau begitu gagah, tegas
dan kuat untuk membela dan maninggikan Islam.

Lalu bagaimana dengan manusia kekinian yang mengaku Islam namun dengan
lantang dan tinggi berani mengkritisi ayat-ayat Allah dan membuat
opininya sendiri. Dengan bahasa bernada tinggi. Apakah benar manusia
yang berani melakukan hal diatas dapat dikatakan mengikuti kebenaran
Islam. Apakah saat ini akan sulit menemukan manusia yang benar-benar
lemah lembut hatinya karena merasakan ruh islam dalam setiap tarikan
nafasnya. Semoga kita semua termasuk manusia yang lemah lembut hatinya
karena cahaya Islam telah memenuhi seluruh tubuh ini sebagaimana Abu
Bakar dan Umar Ibnul Khattab.

dikutip dari kiriman email yayan.

Tulisan ini ditujukan kepada saya sebagai bahan muhasabah diri… dan secara tersirat mengajak kita semua untuk menjadi orang yang berhati lembut yang dapat memahami nilai-nilai Islam bukan sebagai tataran normatif dan konsep belaka, tapi mampu mewujudkannya dalam setiap tarikan nafas dan sikap kita, mampu berteriak lantang kepada dunia “Saksikanlah bahwa saya seorang Muslim..”. Seorang muslim yang mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin, seorang muslim yang keberadaannya akan terasa begitu bermanfaat buat sekitarnya, seorang muslim yang mampu mengemas islam dengan keindahan akhlaknya dan yang pada akhirnya …seorang muslim yang akan tersenyum kala menghadap Rabbnya dan membuat orang-orang disekitarnya menangis karena kehilangan dirinya..(banna06)

ketika kita lahir ke dunia, kita menangis dan orang disekililing kita tersenyum… maka pergunakanlah jatah hidup kita dengan baik sehingga ketika kita meninggalkan dunia ini, kitalah orang yang tersenyum dan orang disekililing kita menangis…

Wallahu a’lam bishowab….



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: