MODUL MULTIMEDIA

Home » Filsafat » Aliran Progresivisme

Aliran Progresivisme

Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.

Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata” dan juga pengalaman teman sebaya

Tokoh-tokoh Progresivisme

1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)

James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.

2. John Dewey (1859 – 1952)

Teori Dewey tentang sekolah adalah “Progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “Child Centered Curiculum”, dan “Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas

3. Hans Vaihinger (1852 – 1933)

Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.

filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes
(fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.
Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.

Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.
Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.


13 Comments

  1. dira says:

    Wah, bog kita mirip2. Mampir, salam kenal….. semoga menjadi blog yg progresif, hehe….

  2. riry ajah says:

    kok gag ada gambar2 tokoh aliran masing2 mas??

  3. Rico says:

    hmm.. saya ada pertanyaan buat yang menulis :
    a. Apakah progresivisme dalam metode pengajarannya berdasarkan sesuatu yang sudah ada??
    b. dalam kajian filsafat ilmu apakah progresivisme memiliki relevansi dengan falsifikasionsime??
    c. Apakah Progresivisme dalam metode pengajarannya memiliki metode yang mutlak??

    trims’s

    • waduh maaf mas, sya baru sempat buka2 lagi nih blognya…
      hmm..mungkin akansy coba tuangkan hsl pemikiran sya mengenai pertanyaan mas…

      a. pada dasarnya progresivisme dalam metode pengajarannya lebih diarahkan kemampuan pengembangan kemampuan peserta didik, sehingga letak kurikulum berdasarkan konteksnya (contekstual curriculum) berada pada peserta didik (siswa). jadi dlm progresivisme tdk ada kebenaran mutlak, kebenaran itu bersifat relative…sehingga hal ini pun berimbas pada metode pengajarannya, yaitu pengembangan sesuatu yg ada kpda pencarian kebenaran yg akan datang (tentatif problem solving).

      b. iya ada hubungannya mas, dari sudut kajian epistemologi antara progresivisme dg falsifikasionsime memiliki kesamaan pandangan yaitu kebenaran ilmu bersifat tentatif/fleksibel…

      c. sya pikir pertanyaan ini pun ada korelasinya dg pertanyyan yg pertama. karena untuk mendapatkan kebenaran yg bersifat tentatif/ temporer itu harus disesuaikn dg metodenya. sehingga pola/ metode yg digunakan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan kebenaran suatu ilmu…

      mungkin itu yg bs sy jwb mas, mohon maaf kalo memang kurang tepat. krena sya tdk memiliki latrblkng ilmu flsft… tapi sya yakin bahwa setiap kita adalah philosopher…🙂

  4. Nisa Al-Khansa says:

    Makasih artikelnya..:)

  5. mirapgsd says:

    makasih mas artikelnya bermanfaat untuk saya..🙂

  6. bermanfaat bngt nih buat aq,,, makasih,,,

  7. makasih banyak kakak
    w copy articelmya yah buat tugas soalnya…………

    membantu bget………..

  8. Aufanuri says:

    numpang belajar.. terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: