MODUL MULTIMEDIA

Home » Isu Pendidikan Kejuruan » PERAN SMK SEBAGAI SPECIFIC HUMAN CAPITAL DALAM MEMBANGUN PEREKONOMIAN INDONESIA

PERAN SMK SEBAGAI SPECIFIC HUMAN CAPITAL DALAM MEMBANGUN PEREKONOMIAN INDONESIA

PERAN SMK SEBAGAI SPECIFIC HUMAN CAPITAL DALAM MEMBANGUN PEREKONOMIAN INDONESIA

Oleh:

Tuatul Mahfud & Ade Novi

(Mahasiswa Pascasarjana PTK UNY)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran SMK dalam membangun perekonomian indonesia. SMK sebagai lembaga yang menciptakan Specific Human Capital akan menciptakan tenaga kerja yang terampil pada bidang tertentu dengn performance value yang baik. Dengan terciptanya performance value yang baik,  maka lulusan tersebut mudah untuk terserap kedunia industri yang akan berimbas pada peningkatan pertumbuhan perekonomian daerah.

SMK merupakan lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk menghasilkan specific human capital. Di SMK, sejak awal siswa dididik untuk berkomitmen pada ketrampilan tertentu (specific) yang match langsung dengan kepentingan sektor usaha industri tertentu. Siswa SMK dibekali dengan ketrampilan praktis dan pengalaman kerja (semacam on-the-jobtraining) dalam kekhususan tertentu. SMK sebagai suatu entities memiliki peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Sebagai suatu entitas ekonomi, keberadaan SMK dapat berperan sebagai special endowment factor dalam perekonomian di daerah.

Keterserapan alumni SMK dalam pasar tenaga kerja berarti penciptaan income bagi alumni SMK, sekaligus pendapatan bagi daerah (dalam bentuk PDRB) di mana alumni tersebut bekerja. Peran inilah yang kemudian menjadikan SMK menjadi suatu engine sector of growth dalam pertumbuhan ekonomi di daerah.

Kata Kunci : SMK, Specific Human Capital, dan Ekonomi

I. PENDAHULUAN

Indonesia mau tidak mau terlibat di dalam proses globalisasi dan persaingan yang semakin meluas dalam berbagai bentuk berupa arus barang dan jasa tenaga kerja dan arus modal pada tahun 2003 (AFTA) dan tahun 2020 (APEC), yang tidak mungkin terlepas dari persyaratan tersedianya sumberdaya manusia atau tenaga kerja sesuai kebutuhan industri saat ini, memiliki kompetensi dan fleksibel dalam menghadap perubahan dan tantangan di masa mendatang.

Memasuki tahun 2003 negara-negara tidak lagi mengenal batas, baik batas tatanan perekonomian maupun batas tatanan informasi. Pada situasi demikian setiap orang sebagai komponen suatu bangsa akan menghadapi persaingan ketat untuk memperebutkan peluang pasar yang dibuka lebar-lebar. Dampak dari perubahan tatanan tersebut di atas sudah mulai terasa hampir disemua sektor. Beberapa jenjang jabatan yang mempersyaratkan kompetensi tertentu misalnya saja tenaga kesehatan ternyata sudah banyak terisi oleh orang-orang asing. Apabila hal ini tidak diantisipasi sejak dini, bukan tidak mungkin kita akan menjadi orang asing di negara sendiri.

Dalam era global, dunia pendidikan di Indonesia pada saat ini dan yang akan datang masih menghadapi tantangan yang semakin berat serta kompleks. Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara lain baik dalam produk, pelayanan, maupun dalam penyiapan sumber daya manusia. Ada beberapa contoh sebagai tantangan Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi sumber daya manusia yaitu dengan kondisi nyata bahwa posisi Indonesia dalam peringkat daya saing bangsa di dunia internasional adalah nomor 102 tahun 2003 sedangkan tahun 2007 nomor 111 dengan skor 0.697 dari 106 negara Asia Afrika yang disurvei Human Development Indkes (HDI) (nationmaster.com).

Dampak akibat krisis ekonomi yang amat dirasakan adalah tingginya angka tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi : SD ke SLTP 19,3% ; SLTP ke SLTA 34,4%, SLTA ke PT 53,12%. Sementara itu daya tampung ke Perguruan Tinggi hanya 11,4 %, artinya jumlah yang memasuki pasar kerja tanpa memiliki kompetensi mencapai 88,6%. Kondisi peringkat di atas, menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi sekarang ini dalam pengelolaan SDM Indonesia. Sangat dibutuhkan usaha keras dunia pendidikan agar tenaga kerja yang mengacu ke tenaga pasar global mampu bersaing pada persaingan internasional. Tenaga pasar global dan keharusan mempertahankan kedudukan bisnis Indonesia dalam percaturan perekonomian dunia hanya dapat dijawab dengan pengembangan SDM yang mampu: 1)Menghasilkan kualitas produksi barang dan jasa yang berstandar internasional dengan tetap mempertahankan kerakteristik nasional. 2)Menghasilkan barang dan jasa dengan harga yang bersaing melalui proses operasi/produksi yang efisien. 3)Menampilkan citra sebagai pemasok yang handal dan terpercaya.

Untuk memperoleh SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing, perlu didukung oleh suatu sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang dikembangkan berdasar pada kebutuhan pasar kerja dan dinamika percepatan perubahan yang terjadi pada dunia usaha dan dunia industri.

Gunthur Salahudin selaku Dewan Pengurus Propinsi Kamar Dagang dan Industri Induk Usaha Mikro Kecil Menengah KADIN UMKM Jatim menyampaikan bahwa hasil survey pada 10.000 pekerja Indonesia selama 10 tahun menyebut bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas dan memiliki banyak kejeniusan. Kelemahannya hanya pada sistem pendidikan yang tidak dapat mengubah budaya konsumtif menjadi produktif dan kreatif. Lulusannya hanya menjadi perencana dan pembuat wacana saja, tangan dan kakinya tidak mampu mewujudkannya menjadi produk barang atau jasa. Semua program yang bagus pasti gagal di tengah jalan karena pelaksana lapangan yang harus mewujudkannya tidak terlatih dan terdidik untuk itu, hanya baca, tulis, hitung, gambar dan hafalan di balik bangku, hanya diatas kertas (umkm-online.com).

Memasuki abad ke-21, paradigma pembangunan yang merujuk knowledge-based economy tampak kian dominan. Paradigma ini menegaskan tiga hal. Pertama, kemajuan ekonomi dalarn banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi menjadi kian kuat dan solid. Ketiga, pendidikan menjadi penggerak utama dinamika perkembangan ekonomi, yang mendorong proses transformasi struktural berjangka panjang (Alhumami, 2004).

Telah banyak sumber dan pakar ekonomi pendidikan mengatakan bahwa pendidikan memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi. Berbagai kajian akadernis dan kajian empiris telah membuktikan hal ini. Pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas (merniliki pengetahuan dan keterampilan serta· menguasai teknologi) tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Indonesia (dengan kesepakatan antara Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Departemen Pendidikan Nasional, sebagaimana yang dirilis oleh Bapekki Depkeu melalui harian Bisnis Indonesia tanggal 20 Maret 2007), menunjukkan komitmennya atas reformasi sistem pendidikan di negeri ini. Komitmen ini diterapkan pada tahun ini dengan dengan mengubah fokus pendirian lembaga Pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan yang bersifat kejuruan akan diperbanyak jumlahnya. Idealnya, menurut Bapekki jumlah lembaga pendidikan kejuruan mencapai 70% darl lembaga pendidikan yang ada, sedangkan sisanya 30% lagi diisi oleh lembaga pendidikan umum. Komposisi ini telah banyak diterapkan oleh negara-negara di kawasan Asia dan Eropa, dan telah terbukti mampu menekan laju pengangguran di negara-negara tersebut. Dengan besamya komposisi lembaga pendidikan kejuruan, akan tercipta link and match antara dunia pendidikan dan lulusannya dengan kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha. Dari paparan teori diatas terkait kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang disampaikan oleh beberapa ahli ekonomi pendidikan adalah pendidikan menghasilkan peningkatan ketrampilan dan kemampuan dalam produksi. Jika ketrampilan dan kemampuan untuk memproduksi meningkat maka pertumbuhan ekonomi pun akan meningkat. Dengan alasan inilah SMK merupakan lembaga pendidikan yang mempersiapkan lulusannya untuk memiliki pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan yang akan menjadi bekal setelah menyelesaikan pendidikan. Sehingga lulusan SMK memiliki bekal sebagai job creator maupun sebagai worker, yang berarti siap memasuki pasar kerja. Pendidikan Menengah Kejuruan mengantisipasi kondisi ini melalui penerapan sistem pendidikan dan pelatihan Kejuruan berdasarkan kompetensi (CBT).

Dengan pemikiran ini, pembahasan tentang peran pendidikan SMK terhadap pertumbuhan perekonomian akan melibatkan pembahasan SMK sebagai lembaga yang menyiapkan specific human capital yang berkualitas. Dengan terciptanya SDM/lulusan yang berkualitas yaitu  lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja sehingga siap memasuki pasar kerja. Keterserapan para lulusan yang merupakan output SMK akan meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui terciptanya nilai tambah terhadap barang dan jasa yang terdapat dalam dijelaskan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam menyekolahkan anak-anaknya untuk menempuh studi di jenjang SMK. Semakin tinggi tingkat partisipasi masyarakat, semakin tinggi pula kualitas SDM yang dapat digunakan dalam pengolahan sumber daya yang tersedia dalam perekonomian.

II. PEMBAHASAN

A. SMK Menciptakan Specific Human Capital

Kaitannya dalam pendidikan kejuruan sebagai lembaga yang menciptakan specific human capital maka dalam hal ini Balogh (1969) menyatakan pentingnya pendidikan kejuruan yaitu bahwa sekolah kejuruan dapat rnengatasi masalah-masalah di negara-negara berkembang. la mengatakan bahwa: “As a purposive factor for rural socio-economic prosperity and progress, education must be technical, vocational and democratic” (h.262).

Sementara Psacharopoulos (1997) melihat fakta bahwa negara-negara berkembang berusaha mengembangkan menjadi negara industri. Industrialisasi mensyaratkan teknologi, dan teknologi membutuhkan tenaga kerja (hard skill) sebagai operatorya. Ia mengatakan: “If technology is seen as a panacea for industrializing a country’s economy and achieving higher levels of per capita income, the next logical step is to instil into the labour force the ‘necessary skills’ for such higher technology to be applied and further developed ” (h.385). Ini berarti penyediaan sekolah kejuruan untuk mencetak necessary skills menjadi sangat penting. Penyediaan sekolah ini digarnbarkan oleh Psacharopoulos sebagai berikut: “Just as you can build a bridge to lower transportation costs between two sides of a river, so by providing vocational education a country can allegedly prosper economically and reap more easily the benefits of economic growth” (h.385).

Meminjam istilah Becker (1964), SMK merupakan lembaga pendidikan yang dimaksudkan untuk menghasilkan specific human capital. Di SMK, sejak awal siswa dididik untuk berkomitmen pada ketrampilan tertentu (specific) yang match langsung dengan kepentingan sektor usaha industri tertentu. Siswa SMK dibekali dengan ketrampilan praktis dan pengalaman kerja (semacam on-the-jobtraining) dalam kekhususan tertentu seperti bangunan, elektronika, listrik mesin, atau otomotif, bisnis manajemen dan lain-lainnya. Sekolah kejuruan diproyeksikan menjadi inkubator bagi SDM trampil untuk siap pakai. SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan merupakan awal titik balik sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial di masyarakat. SMK diharapkan mampu menciptakan efek ganda (multiplier effect), yaitu mendorong capaian pendidikan warga sekaligus juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Khususnya melalui sektor informal. Pembekalan kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi hal yang penting. Siswa dididik untuk menjadi job creator atau businessman dan bukan hanya sebagai worker.

Dokumen Road Map of DPSMK 2006-2010 memberikan dukungan atas gagasan bahwa pendidikan kejuruan (vocational education) dalam sistem pendidikan menengah di Indonesia sangat penting untuk ditingkatkan. Dokumen tersebut memberikan beberapa reasoning sebagai berikut:

  1. SMK merupakan bagian tak terpisahkan dari sektor ekonomi, yang ditujukan untuk menunjang pertumbuhan ekonorni nasional. Oleh karena itu, sistem SMK perIu ditingkatkan (improved) baik secara kualitas maupun kuantitas.
  2. Kualitas SMK mencerminkan kualitas angkatan kerja Indonesia, yang perlu dikembangkan terus-menerus untuk meningkatkan daya saing sumberdaya manusia Indonesia.
  3. 3. SMK berperan dalam mengurangi tingkat pengangguran (jobless index) di Indonesia.
  4. Supaya mampu tampil dalam pasar tenaga kerja, SMK harus berpartner dengan sektor usaha, dan pengusaha harus lebih berperan dalam mendukung kebijakan pendidikan kejuruan.

Hasil atau output dari pendidikan dan pelatihan secara makro yang bersifat specific human capital adalah terciptanya siswa yang memiliki performance value yang dibutuhkan oleh dunia kerja/industri. Adapun performance value yang harus terpenuhi untuk memenuhi tuntutan dunia kerja adalah meliputi 3 aspek, yaitu: 1)Knowledge (pengetahuan), 2)Skill (keterampilan), 3)Affective (sikap). Ketiga aspek tersebut harus mengikuti konsep kesepadanan sebagaimana ditawarkan Djoyonegoro (1995:5) dalam bentuk link and match, pada kenyataannya pendidikan telah sesuai dengan keperluan masyarakat (industri) yang sedang membangun. Pendidikan sampai saat ini dianggap sebagai unsur utama dalam pengembangan SDM dan berkolerasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini bisa dijelaskan bahwa SMK sebagai lembaga pendidikan (entitas) dapat dipandang sebagai suatu sistem akan terdiri dari input, proses, dan output. Untuk menjadikan input menjadi suatu output yang baik ataupun berkualitas, maka diperlukan sebuah proses yang baik pula. Input SMK adalah siswa yang sedang belajar di SMK yang bersangkutan. Untuk mempersiapkan siswa menjadi lulusan yang berdaya guna dan berdaya saing serta memiliki sikap, perilaku, wawasan, kemampuan, keahlian serta keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan berbagai bidang dan sektor industri, maka SMK harus melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas, baik yang diupayakan melalui swadana maupun bantuan pemerintah. Fasilitas yang dimaksud adalah hardware (sarana dan prasaran), software (kurikulim) dan brainware (SDM yang terlibat dalam KBM).

Dengan terciptanya lulusan SMK yang terampil dibidangnya (specific human capital) maka diharapkan akan memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan perekonomian.

B. Membangun Pererkonomian Indonesia

Hasil studi UNESCO-UNEVOC (2006) -International Centre for Technical and Vocational Education and Training- yang menemukan bahwa ” … the higher the GDP per capita, the higher the Percentages of Technical Vocational Enrolment (PTVE),” (h.64) di mana PTVE adalah “number of students enrolled in technical/vocational programmes at a given level of education as a percentage of the total number of students enrolled in all programmes (technical/vocational and general) at that level”. Hasil studi UNESCO-UNEVOC (2006) yang tertuang dalarn laporan Participation in formal TVET programmes worldwide: an initial statistical study juga menunjukkan bahwa tingginya total GER (Gross Enrolment Ratio) berhubungan dengan tingginya prosentase technical/vocational enrolment.

Studi empiris yang dilakukan oleh DPSMK dengan menggunakan metode kuantitatif yang mengkorelasikan proporsi siswa SMK:SMA dengan PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi dengan menggunakan data sekunder dari BPS (Badan Pusat Statistik) dan PSP (Pusat Statistik Pendidikan) Depdiknas, hasil analisis statistiknya menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara rasio siswa SMK dan PDRB. Apabila Provinsi merniliki rasio siswa SMK rendah, cenderung merniliki nilai PDRB yang rendah. Sebaliknya apabila memiliki rasio siswa SMK yang tinggi, cenderung memiliki nilai PDRB yang tinggi pula.

Peran penting yang dimainkan lembaga pendidikan SMK ini diamanatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan bahwa lulusan SMK diarahkan pada tiga pilar utama yaitu: (1) bekerja di dunia usaha dan dunia industri (DUIDI), (2) bekerja secara mandiri atau usaha sendiri dan (3) melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi terutama perguruan tinggi profesi/vokasi.

Terkait dengan amanat tersebut tidaklah menyimpang manakala direktorat PSMK dalam Renstra 2005-2009 menyebut pendidikan menengah kejuruan sebagai bagian dari sistem pendidikan sekaligus sebagai bagian dari sistem ekonomi nasional. oleh karena itu semua program yang sedang dan akan dikembangkan oleh Direktorat PSMK sejalan dengan berbagai program pendidikan yang diselaraskan dengan pengembangan ekonomi secara nasional.

Selanjutnya untuk mendukung tercapainya tiga pilar utama misi pendidikan kejuruan seperti yang dimamanatkan Undang-undang Pendidikan, Direktorat PSMK mengembangkan Strategi induk yang tertuang dalam Renstra 2005-2009, yaitu:

1)        Mengembangkan Mutu dan Relevansi SMK dan Membina Sejumlah SMK yang Bertaraf Internasional.

2)        Perluasan dan Pemerataan Akses dengan Tetap Memperhatikan Mutu.

3)        Meningkatkan Manajemen SMK dengan Menerapkan Prinsip Good Governance.

SMK sebagai suatu entities memiliki peranan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia. Sebagai suatu entitas ekonomi, keberadaan SMK dapat berperan sebagai special endowment factor dalam perekonomian di daerah. Peran ini akan semakin berdaya guna dengan serangkaian proses pembelajaran di SMK yang lebih mengedepankan aspek skills dalam membentuk kualitas SDM.  Peran SMK dalam mendukung ekonorni daerah, sangat dipengaruhi oleh bagaimana SMK menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja. SMK sebagai sebuah sistem yang meliputi input berupa siswa dan proses KBM dan pendukungnya, merniliki peran yang sangat penting dalam menggodok input menuju output berupa lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja. Sehingga akan tercipta lulusan SMK yang berkualitas, dan merekalah yang akan menjadi penentu di pasar tenaga kerja, dan pada gilirannya, menjadi penyumbang pertumbuhan ekonorni daerah. Semakin berkualitas lulusan SMK, semakin mudah ia terserap dalam pasar tenaga kerja. Berhasil menjadi pekerja di pasar tenaga kerja berarti menciptakan pendapatan. Keterserapan alumni SMK dalam pasar tenaga kerja berarti penciptaan income bagi alumni SMK, sekaligus pendapatan bagi daerah (dalam bentuk PDRB) di mana alumni tersebut bekerja. Peran inilah yang kemudian menjadikan SMK menjadi suatu engine sector of growth dalam pertumbuhan ekonomi di daerah. Melalui peran ini, SMK akan menciptakan multiplier effect di bidang ekonomi yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

III. KESIMPULAN

SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan merupakan awal titik balik sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial di masyarakat. SMK diharapkan mampu menciptakan efek ganda yaitu mendorong capaian pendidikan warga sekaligus juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kualitas SMK di seluruh Indonesia sangat menentukan sekali mutu Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia. Peningkatan mutu tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan bangsa. Peran SMK dalam mendukung ekonorni daerah, sangat dipengaruhi oleh bagaimana SMK menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil dan siap kerja. Dengan memperoleh hasil pendidikan yang SMK yang baik, maka setiap lulusan SMK akan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang memadai bahkan tanpa mengantungkan diri kepada orang lain. Karena setiap usaha untuk maju sangat tergantung pada sumber daya manusia itu sendiri dan kualitas SMK tersebut.  Hal ini dapat meningkatkan Daya Beli masyarakat, dan dapat meningkatkan pendapatan daerah.

Daftar Referensi:

Depdikbud. (1997). Keterampilan Menjelang 2020 untuk Era Global (laporan satuan tugas pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia). Jakarta: Depdikbud.

Depdiknas. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20, Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dikmenjur. (2008). Peranan SMK Kelompok Teknologi Terhadap Pertumbuhan Industri Manufactur. Jakarta: Dikmenjur.

Dikmenjur. (2008). Peran SMK dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah. Jakarta: Dikmenjur.

Gultom,Syawal. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Diambil pada tanggal 4 Juni 2010, dari http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=22233: pendidikan-berbasis-keunggulan-lokal&catid=25:artikel&Itemid=44.

DPSMK. (2006). Road Map of DPSMK 2006-2010. Dokumen.

Tobing, Elwin. (2007). Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi (I). Diambil pada tanggal 4 Juni 2010, dari http://www.theindonesianinstitute.org/janeducfile.htm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: