MODUL MULTIMEDIA

Home » Isu Pendidikan Kejuruan » Problema perencanaan diklat kejuruan Indonesia

Problema perencanaan diklat kejuruan Indonesia

oleh: Tuatul Mahfud. S.Pd

Masalah besar yang masih dihadapi bidang ketenegakerjaan saat ini adalah tingkat pengangguran yang relatif tinggi dengan pertambahan angkatan kerja melebihi pertambahan jumlah kesempatan kerja yang tersedia, jumlah pertumbuhan angkatan kerja yang cukup pesat kurang dapat diimbangi oleh kemampuan penciptaan kesempatan kerja sehingga terjadi pengangguran terbuka yang berakumulasi setiap tahun. Hal inimengindikasikan ketidaksesuaian pemetaan jumlah lulusan dengan kebutuhan dunia kerja/industri. Sehingga diperlukan suatu usaha penyelarasan antara diklat kejuruan dengan kebutuhan dunia industri.

Pada dasarnya penyelarasan merupakan upaya penyesuaian diklat sebagai pemasok SDM dengan dunia kerja yang memiliki kebutuhan dan tuntutan yang dinamis. Konsep penyelarasan mengisyaratkan adanya kebutuhan koordinasi yang baik antara pihak penyedia lulusan pendidikan dengan pihak yang membutuhkan tenaga lulusan. Analisis kebutuhan dunia kerja yang meliputi kualitas/kompetensi dan kuantitas  pada lokasi dan waktu yang berbeda merupakan informasi awal yang perlu disediakan dalam proses penyelarasan. Informasi kebutuhan dunia kerja yang akurat dan rencana pengembangan nasional di berbagai sektor diperlukan dalam reengineering sistem pendidikan pada setiap level dan bidang dalam menyediakan SDM sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Reengineering seluruh aspek pendidikan, baik pada aspek sarana prasarana, tenaga pendidik, maupun sistem pembelajaran, harus ditujukan untuk pencapaian keselarasan antara pendidikan dan dunia kerja.

a) Bentuk Lembaga Diklat Kejuruan

Konsep pengembangan lembaga diklat seharusnya memperhatikan tiga komponen utama yaitu  sisi permintaan, sisi pasokan dan mekanisme penyelarasan. Sehingga hadirnya lembaga diklat kejuruan seharusnya didasarkan dari permintaan atau kebutuhan dunia kerja. Dalam merumuskan program penyelarasan yang bersifat komprehensif dibutuhkan gambaran kedepan dari beberapa dimensi yang relevan. Proyeksi kebutuhan kedepan terhadap kompetensi yang dibutuhkan dari dunia kerja dan jumlahnya pada setiap lokasi di Indonesia sangat diperlukan dan harus mengacu pada karakteristik khusus dan potensi yang dimiliki lokasi/daerah tersebut, untuk itu informasi rencana pengembangan diperlukan sebagai dasar peramalan ke depan. Pertimbangan rencana pembangunan daerah dalam program penyelarasan memberikan diharapkan dapat mengurangi terjadinya disparitas dalam hal aksesibilitas dan mampu mendayagunakan potensi yang ada di daerah.

Sedangkan pada konteks pendidikan kejuruan tingkat SMK sesuai dengan semangat diferensiasi kurikulum, Manajemen Berbasis Sekolah dan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP), maka sekolah diharapkan mampu mengapresiasi, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi setempat, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia, sebagai keunggulan lokal yang hasilnya dapat berguna bagi masyarakat luas. Dengan cara ini, di masa datang setiap sekolah memiliki ciri keunggulan yang tidak harus sama antara satu dengan yang lainnya.

Dalam konteks pengembangan pendidikan kejuruan, daerah merniliki kewenangan menentukan kebijakan pengembangan program pendidikan SMK yang sesuai dengan konteks daerah. Program pendidikan SMK dapat diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja atau sumber daya manusia (SDM) yang lebih produktif dan mampu mendayagunakan potensi perekonomian daerah, mampu memperbesar perputaran perekonomian, sehingga dalam jangka panjang akan meningkatkan kemandirian daerah.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menentukan program kejuruan yang dibutuhkan daerah antara lain: (1) menentukan tipologi daerah, (2) menentukan persediaan tenaga kerja daerah, (3) memperhitungkan kebutuhan tenaga kerja, (4) memperhitungkan kebutuhan tenaga kerja daerah, (5) menentukan jumlah lembaga pendidikan berdasarkan bidang-bidang kejuruan.

b) Pengembangan Kurikulum Diklat Kejuruan

Pendekatan market-driven dalam upaya penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja, memberikan konsekuensi bahwa sisi pasokan/pendidikan harus berusaha merespon dinamika kebutuhan dunia kerja. Kebutuhan dunia kerja seperti digambarkan pada model sebelumnya merupakan informasi yang harus diakomodasikan dalam sistem pendidikan nasional baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal dalam bentuk pendidikan berjenjang (umum, kejuruan dan spesialisasi) dan bentuk pelatihan. Semangat untuk mampu menyediakan SDM yang andal dan dapat diterima di dunia kerja harus diwujudkan dengan upaya untuk mendisain sistem pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan mengacu pada strategi nasional. Sebagai langkah awal perbaikan sistem pendidikan nasional, maka perlu dilakukan juga pemetaan terhadap kondisi saat ini dan kesenjangan yang mungkin terjadi dengan kebutuhan dunia kerja baik dalam dimensi kualitas/kompetensi, kuantitas, lokasi maupun waktu. Khusus untuk dimensi kualitas/kompetensi perlu diidentifikasi lebih khusus kebutuhannya baik yang bersifat soft competencies yang meliputi sikap mental dan pemahaman budaya maupun hard competencies sesuai dengan bidang pendidikan yang diberikan.

Kurikulum yang tepat untukdihunakan dalam diklat kejuruan adalah kurikululum berbasis dunia kerja, dimana kurikulum yang dirancanga untuk mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan keinginan pasar tenaga kerja atau dapat diterima oleh dunia usaha dan dunia industri. Kurikulum harus bersifat futuristik dan visioner sehingga mampu beradaptasi dengan yang akan terjadi di masa depan khususnya perkembangan teknologi yang begitu cepat dan seringkali dunia pendidikan sulit mengimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena itu desain kurikulum harus benar-benar berimbang antara kompetensi di bidang soft skill dan hard skill karena dunia pekerjaan jauh sangat berbeda dengan dunia pendidikan formal.

Dalam pengembangan kurikulum diklat kejuruan harus memperhatikan relevansinya baik terhadap konteks pendidikan maupun konteks lapangan kerja. Relevansi kurikulum terhadap konteks pendidikan berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menyangkut dukungan masyarakat kependidikan, ketersediaan tenaga pengajar dan jajaran kependidikan yang lain untuk mendukung implementasi kurikulum, kualitas masukan calon siswa dan aspirasi pendidikannya, dan juga hal-hal yang menyangkut administrasi akademik pelaksanaan kurikulum tersebut. Sedangkan relevansi kurikulum terhadap konteks lapangan kerja menyangkut persoalan-persoalan yang berkaitan dengan daaya dukung masyarakat dunia kerja baik dalam hal ketersediaan bantuan fisik maupun non-fisik, kemungkinan pengumpulan sumber informasi untuk masukan perencanaan dan penyempurnaan kurikulum, serta ketersediaan masyarakat dunia usahadan industri untuk membantu sebagai anggota penasehat kurikulum (advisory committee).

Dibawah ini ada beberapa langkah strategi pengembangan kurikulum diklat kejuruan dengan mengguakan pendekatan DACUM (Developing A Curikulum), yaitu:

1)   Orientasi bagi anggota komisi atau peserta tentang program yang akan direncanakan kurikulumnya dan apa yang diharapkan dari mereka.

2)   Mengkaji/mereview deskripsi pekerjaan dan tugas atau tanggungjawab pekerjaan tersebut dalam situasi tempat kerja yang riil.

3)   Mengidentifikasi kategori kompetensi umum dalam bidang kerja yang dimaksud, yang biasanya merupakan ranah kompetensi yang nanti akan dapat dijabarkan lebih lanjut kedalam kompetensi-kompetensi yang lebih spesifik.

4)   Mengidentifikasi seperangkat kompetensi khusus dalam tiap kategori kompetensi umum, baik berwujud skill, pengetahuan atau keterampilan tertentu.

5)   Mengorganisir kompetensi-kompetensi tersebut dalam urutan atau struktur yang memungkinkan untuk dijabarkan menjadi urutan belajar yang sesuai dengan prinsip dan psikologi belajar.

6)   Menentukan tingkat kecakapan (level of competence) untuk masing-masing kompetensi sebagai acuan proses penilaian hasil belajar anak didik.

Keenam langkah tersebut dilakukan dengan memaparkan secara keseluruhan secara massif, agar dapat dilihat oleh semua peserta dalam suatu ruangan yang diatur khusus. Dengan demikian dapat memungkinkan terdapat pertukaran ide/gagasan sebanyak mungkin untuk menjaga tumpah tindih antara kompetensi yang dirumuskan.

Oleh karenanya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, kurikulum diklat kejuruan (SMK) disusun memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan jenis pekerjaan, lingkungan sosial, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kesenian.  (UU Sisdiknas No.20 tahun 2003).

c) Pembelajaran Diklat Kejuruan

Pendidikan berorientasi pasar kerja terlihat dari indikator proses dan hasilnya. Dari segi proses, maka proses pendidikan mempunyai beberapa karakteristik utama sebagai berikut: (1) sekolah/lembaga diklat dibangun dengan memperhatikan kebutuhan dan kondisi lingkungan/daerah, (2) dilaksanakan lebih banyak melakukan praktik daripada teorinya, (3) lebih banyak menjalin dan bekerja sama dengan institusi terkait, terutama dengan dunia usaha dan dunia industri. Pada prinsipnya pembelajaran diklat kejuruan tidak dapat dilepaskan dari konteks dunia industri (DUDI), sehingga dalam proses pembelajaran diklat kejuruan berupaya menghadirkan dunia industri dalam lingkup diklat kejuruan/SMK atau dengan kata lain dengan menggunakan pembelajaran teaching factory/industry.

Hadirnya teaching factory merupakan salah satu upaya dalam rangka menghadirkan dunia industri dalam lingkup SMK. Dimana pembelajaran ini merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training (CBT) dan Production Based Training (PBT), dalam pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/ konsumen. Dalam penjelasan singkatnya teaching factory adalah pembelajaran berorientasi bisnis dan produksi. Konsep ini menekankan bahwa SMK dapat secara  leluasa mengembangkan potensinya untuk menggali sumber-sumber pembiayaan yang sekaligus merupakan sumber belajar. Dalam aplikasinya tcaching factory mengintegrasikan proses pembelajaran untuk menghasilkan produk maupun jasa yang layak jual untuk menghasilkan nilai tambah bagi sekolah. Manfaat yang didapat dari prinsip penyelenggaraan teaching factory meliputi manfaat ekonomis, pedagogis maupun sosial. Manfaat ekonomis berupa nilai tambah secara ekonomis dalam mendukung operasional sekolah. Manfaat pedagogis terutama tampak dalam integrasi proses produksi dengan pembelajaran. Siswa secara langsung dapat belajar sekaligus bekerja dalam suasana industri di lingkungan sekolahnya sendiri. Manfaat sosial di antaranya adalah peran SMK terhadap lingkungan sekitar maupun dunia usaha, dalam hal ini DUDI.

Oleh karenya hal ini dirasa sangat perlu untuk menerapkan teaching factory pada pembelajaran di SMK atau pada lembaga diklat kejuruan pada umumnya, karena dengan memandukan dua konsep belajar antara konsep sekolah dan industri (integration of design and manufacturing) akan dapat meningkatkan produktivitas lulusan SMK. Sehingga keterserapan lulusan SMK di dunia industri akan semakin maksimal.

Referensi:

Wibawa, Basuki. (2005). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan: Manajemen dan Implementasinya di Era Otonomi. Surabaya: Kertajaya Duta Media.

Finch, C.R, and Crunkilton, John.R. (1999). Curiculum Development in Vocational and Technical Education. USA: Publication Data.

Dikmenjur. (2008). Peran SMK dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Daerah. Jakarta: Dikmenjur.

_________,_____. Kerangka Kerja Penyelarasan Pendidikan Dengan Dunia Kerja. Diambil pada tanggal 16 Juni 2010, dari http://www.penyelarasan.kemdiknas.go.id/?pancadewa=content&id=20100508192653&title=Kerangka-Kerja-Penyelarasan.


1 Comment

  1. janartialim.wordpress.com says:

    terima kasih saya dapat belajar banyak dari tulisan anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: