MODUL MULTIMEDIA

Home » Pendidikan » Kepedulian Seorang Guru

Kepedulian Seorang Guru

Tulisan ini dibuat oleh salah seorang pengajar anak-anak TKI di Sabah-Malaysia, Ia bernama Muhammad Ikhsan, S.Pd. Pria ini kelahiran Bandung 5 April 1988. Selama ia berada di Sabah, Ia ditugaskan untuk mengajar di salah satu ladang yang bernama Genting Tanjung Estate, Kinabatangan-Sabah.

Alhamdulillah, puji Syukur kepada Allah yang memberikan kekuatan kepada saya utnuk menyelesaikan tulisan mengenai pengalaman mengajar CLC selama menjalankan tugas di Sabah Malaysia.

Tulisan ini disusun sesuai dengan format yang diberikan pengelola Community Learning Centre (CLC) yang diterima via email. Tulisan ini dibuat berdasarkan situasi yang terjadi di lokasi Tempat Kegiatan Belajar (TKB) Ladang Genting Tanjung Kinabatangan Sabah, Malaysia. Setidaknya melalui tulisan ini bisa menggambarkan bagaimana Program pendidikan bagi anak-anak TKI di Sabah dan bagaimana kondisi di lapangan yang dirasakan oleh saya, baik suka maupun duka. Dibilang suka karena saya mendapatkan senyuman tulus, cinta suci, dan penghargaan yang setinggi-tinggi dari murid-murid dan orang tua murid atas apa yang selama ini diberikan kepada anak-anak TKI Sabah. Perasaan duka muncul saat ingat keluarga di rumah yang kesulitan karena tertundanya honorarium yang seharusnya kami terima setiap bulannya. Hal ini membuat penulis kurang konsentrasi dalam mendidik mereka.

Program-program semacam ini sudah sepatutnya ditindaklanjuti guna memberikan pendidikan dasar sembilan tahun secara merata bagi semua anak Indonesia dimanapun mereka berada. Karena pendidikanlah yang akan mengubah pola pikir anak-anak TKI untuk meraih hidup lebih baik dari orang tuanya yang sekadar menjadi buruh di negara lain.

Motivasi mengajar yang kuat timbul sejak melihat brosur anak-anak TKI Sabah yang kurang mendapatkan pendidikan di tempel di mading kampus. Saat dibuka pendaftaran, saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi di wisuda. saya sendiri cukup terkejut dengan hasil pengumuman yang di pasang di dinding mading kampus mengenai daftar peseta yang lulus karena saya sendiri masih baru pengalaman mengajar.

Motivasi mengajar bertambah kuat  dan menjadi tekad yang bulat ketika tiba ke lokasi, Ladang Genting Tanjung. Saya melihat ketidakberuntungan nasib-anak-anak TKI.  Mereka banyak yang sudah putus sekolah dan banyak yang belum pandai membaca, menulis, dan berhitung (calistung).  Ditambah lagi ketidakmampuan mereka bersekolah di sekolah kerajaan Malaysia dan ketiadaan dokumen yang menyulitkan itu. Orang tua mereka bekerja menyabit dan memungut buah kelapa sawit, yang kurang peduli nasib anak-anaknya. Yang dipikirkan hanya kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan saja, terutama pangan. Untuk pendidikan tidaklah demikian. Mereka umumnya kurang peduli anaknya besar mau menjadi apa.

TKB Genting Tanjung Estate berada di Distrik Kinabatangan. Lokasi ini bisa ditempuh dengan minibus selama dua jam perjalanan dari Bandar Lahad Datu melewati simpang Jeroco, trus masuk pintu utama Genting sejauh 28 Km, dimulai dari Genting Bahagia, Genting Tenegang, hingga Genting Tanjung.

Sementara area ladangnya seluas ± 4900 ha yang terbagi dalam empat divisi, mulai divisi 1 sampai 4. Pekerja yang berada di area Ladang Genting Tanjung ini berjumlah± 400 Kepala Keluarga (KK). Mereka tinggal dalam area yang berbeda, yakni di  Area kilang/pabrik kelapa sawit dan di Area dekat danau /kongsi kolam yang keduanya masuk  divisi 1 dan 2. Sementara Pemukiman lain terdapat di Area Kepayang di Divisi 3 dan 4.

Area Divisi 1 dan 2 fasilitas penerangan atau listrik  juga air selama 24 jam. Namun terkadang pada malam hari listrik naik turun tegangannya, sehingga lampu kadang menyala dan tidak. Untuk divisi 3 dan 4, fasilias penerangannya hanya bisa dinikmati 12 jam mulai 16.00 sore hingga 05.00 subuh. Namun mereka tidak kehilangan kal untuk menikmati musik atau hiburan mereka menggunakan tenaga aki truk/lorinya. Sehingga mereka tetap merasa enjoy setelah bekerja seharian di ladang atau membawa tandan buah sawit ke kilang.

Ujian Kesetaran Paket A diselenggarakan tahun ini, yakni tanggal 16-17 Juli 2011 di Ladang Genting Tanjung H-42, Kinabatangan. Siswa yang akan mengikuti berjumlah 10 siswa. Siswa yang masih aktif  bersekolah berjumlah 8 orang, sedangkan yang 2 sudah bekerja atau tidak bersekolah lagi.

Pada akhir bulan Oktober hasil Ujian Paket A telah diumumkan. Hasilnya sangat menggembirakan. Semua siswa yang mengikuti ujian 100% lulus dengan nilai rata-rata terendah 6,2 dan tertinggi 7,9. Saat acara graduation di Gedung Dewan, kesepuluh siswa yang lulus ini diberikan Ijazah sementara dengan dilengkapi nilai setiap mata pelajaran yang diujikan

Setelah dinyatakan kesepuluh siswa darja 6 enam tersebut akhirnya resmi menjadi siswa TKB Genting Tanjung Estate. Mereka cukup antusias dengan mengikuti CLC ini apalagi dengan beberapa fasilitas yang di berikan seperti Seragam dan peralatan sekolah lainnya. Untuk sekarang siswa telah memasuki semester 2. Saya mulai mengajar dari semester 2 sebab mulai masuk di Sabah sejak Desember 2011 dimana dalam kalender akademik Indonesia sudah memasuki semester 2.

Dalam proses pembelajaran saya mengalami kendala seperti perbedaan bahasa dan proses adaptasi. Dimana siswa terbiasa dengan bahasa Melayu dan Inggris, namun kendala ini bisa diatasi seiring berjalannya waktu sosialisasi dari penulis. Buku modul yang diberikan pun cukup interaktif dengan beberapa contoh yang mudah dipahami oleh siswa walaupun masih harus dibantu diterjemahkan dalam bahasa Melayu.

Karena hanya TKB yang menginduk de CLC Genting Suan Lamba yang sangat jauh ditempuh menyulitkan siswa, dan guru bina untuk berkumpul seperti untuk pertandingan Olahraga dan sebagainya. Diharapakan ke depan Genting Tanjung dapat di tingkatkan menjadi CLC Mandiri melihat dari potensi siswa dan kondisi company yang mendukung dengan adanya CLC.

Ada kejadian menarik dimana saya dengan patner mencoba mencari jalan pintas untuk mengantarkan rapor siswa untuk dikumpulkan ke CLC Genting Suan Lamba. Dengan hanya bermodal informasi yang ala kadarnya saya dengan patner ditemani dengan siswa mencoba melintasi ladang sawit untuk mencari jalan pintas tersebut. Namun karena masih awam tentang jalannya malah kami tersesat menuju hutan liar yang masih dihuni oleh hewan liar untung saja kami cepat bertemu dengan penjaga disana agar segera kembali karena jalan yang ditempuh salah dan akhirnya kami memutar jalan setelah ditunjukkan oleh penjaga tersebut namun jalan yang di tunjuk sangat susah sekali sebab malamnya ada hujan yang membuat jalan hanya seperti kolam lumpur saja. Akhirnya kami berjibaku untuk melintasi jalan tersebut agar sampai ke Sungai Sukau untuk mengantarkan rapor tersebut. Dari pengalaman tersebut saya mendapat pengalaman menarik dimana jangan pernah berjalan di hutan sawit tanpa ditemani orang yang sudah mengerti arah jalan atau membawa peta sebab kalau tersesat resikonya sangat besar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: