MODUL MULTIMEDIA

Home »

Menjadi Terpelajar di CLC Cerdas

Rahmadi Diliawan, S.Pd., Lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia dari Universitas Pendidikan Bandung berkelahiran di Blitar tanggal 28 Februari 1986. Disamping ia expert di bidangnya, ia juga memiliki bakat di bidang seni. Dan saat ini ia ditempatkan mengajar di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu dan di CLC Cerdas serta di CLC Inanam.

 

Menjadi Tenaga Pendidik di Sabah!

Tergabung dalam rombongan Tenaga Pendidik Indonesia untuk Anak-anak Indonesia di Sabah Malaysia mempunyai sebuah arti sendiri bagi saya.Jauh hari sebelum saya mendafarkan diri untuk ikut serta dalam program ini, Saya pernah berdoa agar bisa kerja di luar negeri dalam rangka berbakti ke Tanah Air saya Indonesia.Bagaikan hajat yang terwujud, saya menganggap hal ini adalah kesempatan besar bagi saya untuk bisa berguna bagi banyak orang. Atas termakbulnya doa saya,kesempatan ini saya anggap sebagai kepercayaan (baca: amanah) yang diberikan oleh Allah Swt.

Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk dapat memberikan berbagai macam hal berguna bagi banyak orang.I want to be inspirational person for others, salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang motivator, dan menjadi guru di Sabah ini merupakan lahan saya untuk menimba ilmu sebanyak-banyak tentang bagaimana agar saya bisa memotivasi lingkungan saya. Memotivasi orang lain bagi saya adalah memotivasi diri sendiri, karena untuk membuat orang lain percaya diri dibutuhkan kepercayadirian yang kuat. Sempurna bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok seorang manusia, tetapi terus berkeinginan dan bertindak untuk menjadi lebih baik adalah sebuah kewajiban manusia.

Tahun 2011 adalah tahun pertama saya menginjakkan kaki di Sabah, masih dengan kepala penuh tanda tanya tentang apa yang akan saya hadapi di negeri ini. Langkah kaki saya tidak menjadi ragu melainkan menjadi semakin mantap dan kuat, karena saya tahu di negeri ini saya tidak sendiri.Tuhan meberikan saya teman-teman yang memunyai visi yang kuat untuk berjuang bersama.

 

Cerdas bersama CLC Cerdas.

Berbeda dengan teman-teman lain yang ditempatkan di perkebunan-perkebunan sawit, Saya mengemban tugas untuk mengajar di Community Learning Center (CLC) Cerdasdan Inanam yang terletak di Kota Kinabalu Ibukota Sabah.

Hari pertama saya berkunjung ke CLC Cerdas sungguh sangat membuat terpana, karena bangunan yang digunakan oleh CLC ini begitu indah. CLC Cerdas menggunakan gedung kantor Gereja Sacred Heart yang terletak di kawasan penampang. Ruang kelas yang nyaman dan memiliki pendingin ruangan, tersedia pula lapangan bulutangkis bagi kami untuk berolahraga.“Kaya sekali CLC ini” begitu pikir saya pada mulanya. Pada kenyataannya adalah CLC Cerdas tidak memiliki tempat permanen seperti beberapa CLC lain, tempat yang CLC ini jadikan tempat singgah adalah bukan milik pribadi. Keberadaan CLC Cerdas adalah sebagai penyewa di tempat ini.Tempat ini adalah milik Gereja Sacred Heart.

Posisi CLC Cerdas sebagai penyewa mengakibatkan terbatasnya ruang gerak masyarakat CLC Cerdas untuk berkegiatan.CLC Cerdas hanya diperbolehkan menggunakan ruangan dari hari Senin hingga Kamis pada pukul 8.30 – 11.30, di luar jam tersebut tempat menjadi milik Gereja Sacred Heart kembali.Imbasnya CLC Cerdas tidak dapat menyimpan barang-barang keperluan sekolah seperti Komputer dan printer.

 

Anak-anak yang terasing!

Di lain situasi, masyarakat CLC Cerdas terutama siswa-siswa nya tidak memiliki akses untuk melalui jalan tertentu. Para siswa tidak boleh memasuki gedung melalui pintu utama, melainkan harus melalui intu samping atau pintu belakang. Untuk menggunakan lapangan bulutangkis pun siswa diwajibkan untuk menyewa.

Mendidik anak-anak untuk bersikap menghormati lingkungan gereja memang tidak mudah, karena seperti yang kita ketahui, masa sekolah dasar adalah masanya aspek psikomotorik berkembang.Berlari ke segala arah, saling bekejaran, saling mendorong, dan juga berteriak adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh anak-anak kecil.

Sikap anak-anak yang demikian terkadang membuat pihak pengurus kantor menegur CLC Cerdas melalui pengelolanya; Bapak Yohanis Solo. Masalah terkesan  ringan, tapi dapat juga berimbas pelik karena berisiko hilangnya izin Gereja Sacred Heart untuk CLC Cerdas. Selain perkara kebisingan, siswa-siswa CLC Cerdas juga memiliki masalah dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menjadi tugas besar para pendidik untuk membina para siswa agar memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Kegiatan rutin anak-anak selepas pulang sekolah adalah menuju tempat pembuangan buku-buku bekas masyarakat sekitar.Anak-anak Cerdas terlihat begitu bersemangat mengorek sampah-sampah dengan kualitas yang maih bagus tersebut.Ada yang mendapat pulpen, ada yang mendapat buku, ada yang mendapat shuttle cock dan berbagai macam barang-barang lainnya.Kebahagiaan anak-ank ini sering berakhir dengan omelan para pengurus gereja.Wajar saja mereka marah, karena setelah menemukan “harta karun” mereka meninggalkan tempat pembuangan itu dengan keadaan berantakan.

Status terasing siswa-siswa CLC Cerdas bukan hanya pada terbatasnya pemakaian sarana pendidikan.Siswa-siswa di CLC ini sebagian besar tidak memiliki dokumen-dokumen yang mendukung untuk perizinn tinggal mereka di Negeri Sabah ini.Bisa dikatakan bahwa mereka adalah para imigran gelap.Ketiadaan paspor dan akta lahir menjadi malah yang cukup pelik bagi paa iswa di sini.Setiap saat mereka bisa tertangkap oleh pihak imigrasi Malaysia.Antar-jemput siswa dari dan menuju ke rumah masing-masing menjadi sebuah solusi sementara agar mereka tidak bejumpa dengan pihak berwenang di Malaysia.Selain itu Bapak Yohanis Solo berinisiatif untuk membuat Kartu Pelajar sebagai dokumen sekunder keberadaan mereka di sini.Walaupun Kartu pelajar tersebut tidak memiliki kekuatan hokum yang kuat, tetapi dirasa cukup membantu untuk menghindari penangkapan yang dilakukan oleh pihak terkait.

Upaya Meraih Kepercayaan!

Dicap sebagai anak-anak yang terbelakang yang illegal tidak membuat mereka berhenti berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.Saya dan guru-guru lain selaku pembimbing mereka, selalu memotivasi agar anak-anak bisa menjadi pribdi yang berguna.

Menjadi tamu membuat anak-anak harus membuktikan diri bahwa mereka dapat berprilaku baik sehingga dapat menciptakan hubungan baik dengan sang tuan rumah. Pada setiap hari Kami, anak-anak melakukan operasi bersih di lingkungan Gereja Sacred Heart.Tak disangka anak-anak begitu bersemangat dalam kegiatan ini. Memanfaatkan jam pelajaran olahraga, mereka berlari pagi sembari memungut sampah-sampah yang tercecer di lingkungan Gereja Sacred Heart.


Ada Siapa dibalik CLC Cerdas?

Di CLC Cerdas ini saya ditemani oleh dua orang guru lokal dan satu orang pengelola yang sangat peduli terhadap pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah.Bapak Yohanis Solo adalah seorang putra Flores yang lahir …., meskipun telah mempunyai istri orang Malaysia dan telah menjadi ayah dari empat warga Malaysia, tetapi tetap mempunyai kepedulian terhdap pendidikan anak-anak Indonesia di Sabah.Atas inisiatifnya mendirikan CLC Cerdas, sudah banyak anak Indonesia yang menjadi terfasilitasi kebutuhan pendidikannya.

Ibu Juliana Wolo, sosok seorang guru yang gigih dalam memberikan pengetahuan, beliau tak hanya mengajar di CLC Cerdas, beliau juga mengajar di beberapa tempat lain yang salah satunya adalah sekolah untuk anak berkebutuhn khusus, meskipun tempat tinggal beliau jauh dari lokai CLC Cerdas, tetapi beliau selalu hadir untuk mengisi kegiatan pembelajaran.

Bapak Bernadus Boli, juga seorang putra Flores seperti halnya Bapak Yohanis.Keinginan beliau untuk mengajar di Cerdas adalah diawali oleh niat membantu teman-teman satu bangsa dan negaranya. “to help my people” begitu jawabnya ketika saya menanyakan tentang motivasinya mengajar di CLC ini. Beberapa tahun yang lalu beliau dating ke Sabah sebagai perantau, sama seperti kebanyakan warga Negara Indonesia yang lain. Alhamdulillah beliau berkesempatan untuk meneruskan pendidikannya di Universitas Tun Abdul Razak, dengan dukungan dari orang tua angkatnya yang berkebangsaan Jerman.

Keberadaan CLC Cerds yang sangat dekat dengan sekolah pusat; Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) (hanya sekitar setengah sampai satu jam jika ditempuh dengan kendaraan umum), menjadikan CLC ini seperti memiliki Pembina di rumah sendiri.Dukungan luar biasa dari Kepala dan Masyarakat Sekolah Indonesia Kota Kinbalu menjadikan kami lebih mudah dalam bergerak.

Kami CLC Cerdas mengucapkan terima kasih banyak atas upaya SIKK yang menjadikan CLC ini mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah dan Beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Negara Republik Indonesia.

 

Misi Utama!

Memberantas buta huruf, bisa dikatakan itulah misi utama kami.Menjadikan ana-anak melek terhadp tulisan agar kelak secara mandiri mampu untuk memperkaya diri dengan berbagai macam ilmu.

Tentu bukan hanya saja memberantas buta huruf yang menjadi tujuan kami, tapi misi ini sangatlah penting sebagai dasar dari berbagai macam ilmu lainnya.Sebenarnya CLC ini berkeinginan untuk membekali siswa-siswa dengan berbgi mcam keterampilan khusus, tetapi sejauh ini CLC Cerdas belum mampu untuk menyiapkan siswa-siswanya memiliki keahlian khusus.

Dalam hal akademik, CLC Cerdas telah mengantar 9 orang siswa yang laik meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya melalui ujian Kejar Paket A. Hal ini membeikan kesan tersendiri  bagi CLC ini, karena ini adalah keikutsertaan Kejar Paket A yang pertama kali bagi CLC Cerdas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: