MODUL MULTIMEDIA

Home »

Putus Rantai Kemiskinan Dengan Pendidikan

Arif Purnawan, S.Pd, Pria ini kelahiran Kudus 12 Januari 1982. Ia diamanahkan untuk mengajar di salah satu pusat pembelajaran di CLC (Community Learning Centre) Ladang Permodalan 1.

Sudah dua kali saya mengikuti program pengiriman tenaga pendidik untuk anak – anak TKI di Sabah,Malaysia ini. Dahulu yang pertama adalah pada tahun 2007 – 2009 yang merupakan pengiriman tahap ke 3 dari total 4 tahap yang dikirim ke Sabah. Untuk tahap 1 dan 2 sudah berada di Sabah pada tahun 2006 sesuai awal program ini dilaksanakan. Pada awal pemikiran saya ketika dinyatakan di terima untuk bergabung di dalam program pendidik ini bahwa saya akan dikirim ke sabah untuk mengajar anak-anak TKI yang akan di tempatkan di sekolah-sekolah kebangsaan Malaysia yang mau tidak mau akan berkerjasama dengan guru Malaysia. Sehingga harapan saya, nantinya akan mendapatkan banyak pengalaman dari guru di Malaysia.

Ternyata sesampainya di Sabah, kami ditempatkan di sebuah Pusat Bimbingan Belajar yang dinaungi NGO / LSM Internasional yang bernama Humana. Humana ini berdiri sekitar tahun 1993 yang merupakan NGO bentukan dari PBB yang diperuntukan dalam bidang pendidikan. Sesuai dengan permit (surat ijin) nya, Humana bergerak dibidang pendidikan menangani pendidikan anak-anak yang berada di sektor perladangan khususnya ladang kelapa sawit. Humana juga di beri ijin menangani hanya pendidikan dasar yaitu Membaca, Menulis dan Menghitung (Calintung) setara dengan Taman Kanak-Kanak kalau di Indonesia.

Berjalannya waktu ternyata Humana ini mulai merambah sampai jenjang pendidikan darjah setara Sekolah Dasar kalau di Indonesia, tetapi surat permitnya masih untuk jenjang pendidikan Calintung. Sumber pemasukan mereka berasal dari sumber bantuan Donatur dari permohonan proposal mereka yang sebagian besar datangnya dari Negara-negara Eropa. Selain itu, mereka juga memungut dana dari perusahan perkebunan dimana mereka beroperasi. Guru yang mereka rekrut berasal dari berbagai bangsa misalnya dari Philipina, Malaysia, Pakistan sampai Indonesia juga. Sedangkan anak-anak didik yang mereka tampung juga dari berbagai Negara di luar Malaysia yang sebagian besar yaitu anak-anak Indonesia dan Philipina.

Berjuta kisah dialami oleh saya sebagai pendidik pada pengiriman pendidik tersebut. Dari mulai kehidupan ladang yang serba minim fasilitas sampai jauh dari peradapan kehidupan. Selama 2 tahun saya berpindah 3 kali PKBM Humana, dari Trusjadi Plantation (Distrik Kunak), Pamol estate IOI group (Distrik Sandakan) dan terakhir Merotai Kecil estate Sime Darby  (Distrik Tawau). Hal terindah yang saya dapatkan dan tidak akan pernah saya lupakan dari program pengiriman pendidik ini adalah mendapatkan pasangan hidup dengan sesama pendidik yang dikirim oleh Indonesia. Dari program inilah kami di pertemukan dan dipersatukan sampai ke jenjang pernikahan.

Kemudian pada pengiriman kedua ini, saya ternyata ditempatkan di CLC (Community Learning Centre) Permodalan 1, Distrik Kinabatangan. Dalam CLC ini ternyata merupakan jenjang lanjutan dari Humana yang mana lulusan anak-anak Humana akan di ikutkan program Kejar Paket A yang kemudian akan di teruskan untuk mengikuti jenjang SMPT (Sekolah Menengah Pertama Terbuka). Sesampainya saya datang  di Permodalan 1 estate disana sudah terdaftar anak-anak CLC sebanyak 30 anak yang terdiri dari TKB Permodalan sebanyak 18 anak dan TKB Morisem 3 sebanyak 12 anak.

Di TKB Permodalan 1 inilah saya tinggal satu rumah dengan bapak Anton Sitio (Guru tahap 3 PNS) dan guru dari Humana Cikgu Editha. Awal Oktober 2011 saya datang sehingga pembelajaran di mulai. Bapak Anton Sitio selaku Pengelola sampai bulan Mei 2011 mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan keterampilan serta seni. Kemudian Cikgu Editha sebagai guru pamong mengampu mata pelajaran bahasa Inggris, selebihnya saya yang mengampu semuanya. Pembelajaran CLC Permodalan terjadi pada tengah hari sampai sore hari yaitu mulai jam 12.30 – 16.00 waktu setempat. Hal ini terjadi karena sekolah yang digunakan adalah masih bergabung dengan sekolah Humana no. 88 yang mana mereka menggunakannya pada pagi hari.

Latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan kimia dari Universitas Negeri Semarang angkatan 2001 dan lulus tahun 2005. Dari hal itulah saya akan sangat senang sekali mengampu mata pelajaran IPA dan juga Matematika. Untuk mata pelajaran IPA sangat berkaitan sekali dengan ilmu kimia itu sendiri, Fisika serta Biologi. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana serta alat-alat praktikum IPA, saya tetap melakukan pembelajaran IPA menggunakan bahan-bahan yang ada di alam perkebunan sawit. Misalnya pembelajaran Gejala Alam Biotik dan Abiotik. Anak-anak diajak jalan-jalan ke perkebunan untuk mengamati apa yang mereka jumpai benda-benda yang termasuk benda abiotik atau benda biotik. Setelah itu anak-anak akan mengidentifikasi serta menyimpulkan bagaimana ciri-ciri benda abiotik dan benda biotik.

Kemudian untuk pembelajaran proses bergeraknya tumbuhan dan fotosintesis, anak-anak mempraktekan tumbuhan kacang hijau untuk di teliti dengan 3 variasi yaitu biji kacang hijau di siram dan diletakan di tempat gelap. Variasi kedua biji kacang hijau disiram dan diletakan di tempat cukup sinar serta biji kacang tanpa disiram dan diletakan di tempat gelap. dari hasil kerja ini anak-anak akan menyimpulkan apa yang mereka dapatkan.

Untuk pembelajaran matematika, saya mempergunakan metode Jari Pintar Aritmatika. Mereka umumnya lemah dalam hal matematika. Ratunya ilmu matematika adalah aritmatika yaitu tambah, kurang, kali dan bagi dan dengan Jari Pintar ini ternyata anak-anak terbantukan dalam menguasai ilmu dasar ini. Jari Pintar Aritmatika saya dapat dari franchise seorang owner namanya bapak Dani. Tanggapan dari beberapa anak-anak yang saya ajar menggunakan Jari Pintar Aritmatika ini adalah sangat senang karena berhitungnya tidak hanya menggunakan otak tetapi juga menggunakan bantuan jari.

Untuk mata pelajaran IPS saya menggunakan bantuan Globe dan Atlas yang saya bawa dari Indonesia. Saya tunjukan letak geografis Indonesia dari Sabah, Malaysia. Kekayaan alam, Budaya, suku bangsa dan adat istiadat serta sejarah Indonesia saya paparkan semua. Hal ini saya lakukan untuk memupuk jiwa Nasionalisme Indonesia supaya pada suatu saat nanti mereka akan bangga sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang akan kembali ke tanah air Indonesia. Sampai umur 14 sampai 16 tahun ada beberapa anak yang belum pernah sama sekali menginjakan Indonesia. Mereka lahir dan dibesarkan di sabah, Malaysia khususnya daerah perladangan kelapa sawit. Jujur saja, kehadiran program pengiriman pendidik untuk anak-anak TKI di Sabah, Malaysia untuk sektor perkebunan kelapa sawit sangat memberi corak pendidikan serta memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan pendidikan anak-anak TKI di Sabah. Mereka yang sebelumnya tidak tahu lagu kebangsaan Indonesia dapat menyanyikannya. Mereka yang awalnya tidak tahu namanya Indonesia, akhirnya mereka tahu semua. Proses ini lambat laun akan memupuk jiwa patriotism pada diri anak-anak TKI di Sabah.

Jumlah siswa di Permodalan seperti yang telah diketahui adalah 18 siswa. Sebagian besar mereka bekerja, ada yang bekerja di kedai sebagai pelayan, ada juga yang bekerja di ladang membantu orang tua mereka. Ada juga yang sudah bisa menjalankan ferson (sejenis kendaraan pengangkut buah kelapa sawit). Hal ini menyebabkan dalam pembelajaran tidak semuanya hadir. Setiap harinya anak-anak yang hadir hanya sekitar 50 % dari total yang ada yaitu sekitar 9 orang. Hal ini dapat kita maklumkan karena memang kesadaran akan pendidikan baik dari orang tua mereka atau dari anak itu sendiri masih kurang. Menurut pandangan orang tua mereka yang berimbas kepada anak-anak mereka, pendidikan tidaklah penting, lebih baik bekerja membantu di ladang dapat uang daripada sekolah tidak dapat apa-apa. Tugas berat inilah yang juga di pikul oleh seluruh guru yang dikirim ke Sabah untuk mengubah paradigma TKI tentang pendidikan. Sehingga mau tidak mau selain tugas utama mengajar teman-teman guru ini harus bisa memberi motivasi kepada anak didik tentang pentingnya pendidikan. Selain itu juga teman-teman guru di sela-sela waktu mengajarnya meluangkan kesempatan untuk berkunjung ke rumah anak-anak dan sedikit berdiskusi dengan orang tua mereka tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan generasi bangsa. Hal ini tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan, karena rata-rata Tenaga Kerja Indonesia di Sabah inipun sebagian besar adalah lulusan SD atau yang lebih parah tidak pernah sekolah. Latar belakang pendidikan inilah yang mendasari pemikiran mereka tentang kurang pentingnya akan pendidikan untuk anak-anak mereka. Sehingga teman-teman pendidik harus berjuang ekstra keras memerangi pemikiran ini secara perlahan-lahan tetapi pasti.

Alhamdulilah setelah cairnya dana Beasiswa pada pertengahan bulan februari 2012, saya langsung membelikan seragam putih biru, batik dan juga seragam olah raga. Hal ini ternyata disambut antusias oleh anak-anak. Hal ini bisa kita lihat bahwa antusias anak untuk berangkat sekolah semakin besar. Setelah mendapatkan seragam ini, anak-anak setiap harinya masuk sekolah dengan semangat. Persentasi mereka naik bisa menjadi 60 % – 80 % dari jumlah kehadiran dan juga dari jumlah total siswa yang ada. Hal ini juga membuat saya sendiri semakin bersemangat untuk mendidik, melayani dan memberikan ilmu yang terbaik yang saya mampui.

Dari pertama saya datang disabah dan mengajar di humana tahun 2007, rata-rata pembelajaran menggunakan papan tulis kapur. Kapur ini ternyata memberikan dampak alergi terhadap kulit tangan saya dan sampai akhirnya merusak kuku juga. Hal itu dapat dilihat digambar bahwa sebagian kuku saya untuk jari tengah hilang tidak tumbuh. Karena setiap kali tumbuh akan tidak menempel dengan kulit. Pada tahun 2009 akhir dari kontrak kerja pertama saya bawa ke dokter di Indonesia untuk diberi obat dan mulai tumbuh kembali. Tetapi ketika masuk ke sabah kembali dan mengajar menggunakan kapur juga,kuku tersebut tidak mau tumbuh kembali dan tangan kanan saya juga kembali alergi. Gambar diatas adalah gambar terbaru keadaan jari tengah saya.

Inilah kondisi bangunan sekolah Humana Permodalan 1 dan juga digunakan CLC Permodalan 1. Bangunan sekolah itu adalah bangunan rumah panggung sehingga menambah pengalaman kurang menyenangkan saya jika ada anak-anak lari-lari di dalam kelas yang mengakibatkan bergetarnya seluruh bangunan tersebut dan juga tidak kalah hebohnya suaranya dengan suara datangnya tsunami. Perlu diketahui bahwa ruangan didalam tidak ada penyekat ruang, sehingga anak-anak yang ramai di ajar oleh guru sebelah mengakibatkan juga buyarnya konsentrasi anak-anak yang saya ajar. Pengalaman berikutnya yaitu masalah tandas atau Toilet dalam bahasa Indonesia. Bangunan tandas yang berada dibelakang bangunan sekolah ternyata tidak dapat digunakan, hal ini dikarenakan air yang ada dipenampungan tidak jalur masuk air ke tandas. Hal itu terjadi karena dirusak oleh pekerja-pekerja philipina yang tinggal di dekat sekolah. Dari kejadian ini, kamipun sudah mengkonfirmasikan berulang-ulang kali kepada pihak majikan atau manager perkebunan kelapa sawit, tetapi hasilnya sampai sekarang nihil. Sampai saat ini juga anak-anak kalau mau buang air kecil akan lari masuk ke kebun kelapa sawit. Hal ini tidak bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika anak-anak ingin buang air besar. Pada suatu hari saya juga mengalami hal yang serupa dengan anak-anak yaitu ingin buang air kecil. Pada waktu itu saya tahan sampai pulang sekolah yaitu menahan buang air kecil kurang lebih selama 3 jam.


1 Comment

  1. alsyairozzi says:

    luar biasa… sangat terharu pak…
    bagaimana caranya agar dapat bergabung dengan program tersebut? terimakasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: