MODUL MULTIMEDIA

Home »

Poltekba Adakan Pelatihan Cooking Class

Panen Salak Malah Lebih Sering Dibuang

TRIBUN KALTIM / SYAIFUL SYAFAR
Petani salak di Km 21 dilatih mengolah salak menjadi kue, Senin (17/11/2014)

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Produksi salak di Kaltim yang diperkirakan sekitar 17 ribu ton per bulan, ternyata hanya sekitar 10 persen saja yang dikelola oleh masyarakat, termasuk petani salak di Km 21, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara. Demikian pernyataan Sekretaris Program Studi Tata Boga, Politeknik Negeri Balikpapan, Tuatul Mahfud, kepada TRIBUNKALTIM.CO, Senin (17/11/2014).

Ia menyayangkan, betapa tanaman pangan lokal salak yang selama ini menjadi ikon Balikpapan tidak ditunjang dengan diversifikasi (pemasaran) produk. Pengolahan pasca panen menurutnya sangat penting dilakukan untuk memberikan nilai tambah ekonomi masyarakat setempat. (Baca juga: Petani Salak di Balikpapan Dilatih Pengemasan)

“Hari Jumat (14/11/2014) lalu tim kami melatih 25 petani salak untuk mengolah hasil panen mereka, sehingga dapat meningkatkan nil

ai tambah pangan lokal,” ujarnya.

Pelatihan yang digelar di ruang praktek pastry Program Studi Tata Boga itu, kata Tuatul, akan mendorong petani salak berinovasi dalam menciptakan produk baru. Apalagi di Balikpapan memiliki hasil pertanian yang sangat variatif. Selain itu, pada musim tertentu saat produksi salak menurun, petani salak juga tetap menjual produk olahan.

“Sudah ada kepiting, buah naga, pepaya mini yang menjadi ciri khas Balikpapan. Produk pertanian dan perikanan harusnya diolah sehingga memberikan nilai ekonomi yang sangat tinggi dan bisa menjadi oleh-oleh Balikpapan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu petani salak di Km 21, Handayani, mengakui jika selama ini lebih banyak buah salak yang mereka hasilkan hanya dibuang karena tidak laku dijual. Apalagi buah salak sangat rentan busuk.

“Kadang kita petik 10 kg, paling yang terjual hanya 3 sampai 5 kg saja. Kadang juga tidak ada. Lebihnya dibuang saja, kan cepat busuk,” katanya.

Pelatihan pengolahan pasca panen, kata dia, telah memberikan pemahaman dalam mengelolah salak sebagai bahan dasar pembuatan kue. Sehingga ke depan bisa dibuatkan usaha skala kecil dan menengah.

“Kami harap tetap didampingi oleh Poltekba dan pemerintah kota bisa membantu pasarkan produk kami,” harapnya. (*)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: